Kamis, 26 November 2015

Sebuah Cinta, Yang Baik

Bisakah kau jelaskan ini, Dan?

gemuruh dalam tubuhku yang tak mau redam tiap kali kau menyusun kata-kata, lalu membisikkannya --seperti sebuah mantra —menumbuhkan perasaan yang seharusnya tak tumbuh olehmu.

Bisakah kau jelaskan ini, Dan?

tentang hati kita yang tidak mau berhenti bermain-main, tentang kita yang mendorong mereka jatuh lebih dalamKeduanya sudah terlalu jauh membicarakan cinta, membicarakan perasaannya masing-masing.

Bisakah kau jelaskan ini, Dan..


    Malam itu cuaca semakin dingin, aku menunggui Daniel dengan gelisah di cafe favorit kami, tempat makan yang kini sudah mulai sepi.
    Maaf, Mas. Kita mau tutup,” ucap seorang karyawan memandang geram ke arahku. Tanpa menjawab, aku bangkit dari kursi, berjalan ke pintu keluar dan berdiri diantara barisan pedagang kaki lima yang semakin hari semakin memenuhi jalanan. Sebagian mereka menunggu pembeli sambil bermain kartu dengan pedagang lain, ada yang sibuk memberesi kiosnya, sebagian lagi terduduk di aspal sambil mengipasi wajahnya, mungkin mengantuk. Aku pun.
    Bip!
    “Maaf, Ndra, aku nggak bisa ketemu kamu malam ini. Anis tiba-tiba telpon dan minta diantar ke dokter. Maaf, ya. Nanti ku SMS lagi.”
Kubaca pesan singkat dari Daniel dengan sedikit menganga, sedikit rasa marah, juga sedikit perasaan sedih. Tapi aku maklum. Aku tipe orang yang sadar diri, aku selalu mengendalikan diriku, aku tahu ini salah. Tapi.., aku tak pernah peduli.

                    ***

    “Sudah tidur?”
    “Seharusnya..”
    “Maaf membuatmu kecewa. Lain kali jika kita ketemu, aku akan membujukmu sampai tidak marah lagi, meski harus menggendongmu keliling taman..”
    “Kamu tidak melakukan apa-apa untukku, Dan. Tidak pernah.”
    “Maaf!”
    Entah ada berapa banyak panggilan tak terjawab. Yang terdengar di telingaku hanya suara-suara penolakan, bunyi-bunyian yang memperbincangkan hubunganku dengan Daniel. Hubungan yang salah, hubungan yang tidak diperbolehkan dalam kitab manapun. Dering ponselku semakin panjang, semakin nyaring, seperti sebuah jeritan yang pilu.

                    ***

    Daniel menggenggam tanganku erat-erat, lebih erat dari seorang bocah yang takut kehilangan balonnya.
    Tiga bulan yang begitu membahagiakan, ya..,” katanya.
Kutatap wajahnya dekat-dekat, tetap tak ada yang berubah. Sorot matanya, sekumpulan kulit berkerut di sekitar kening, juga sebuah bibir yang tampak kebiruan diracun tembakau.
    ..dan sekarang semuanya berubah, ya,” sambungku.
Daniel menajamkan pandangannya, berusaha membaca kata-kata yang akan kukeluarkan sebentar lagi. Tapi gagal.
    Ini..”, katanya sambil menyerahkan sekotak kado berbalut kain merah, “aku akan mengantarmu pulang. Begiu sampai di rumah, jangan pernah membuka isinya. Atau kita..
    ..selesai?” kurasakan ada yang jatuh, setetes air mata.
    Aku mencintaimu, Chand.” Daniel mencium keningku, ada kehangatan yang menjalar tiba-tiba, ada gemuruh yang entah menghancurkan apa --di dalam dadaku. Kami berpelukan, seperti sepasang kangguru yang berusaha mencapai pundak masing-masing. Dalam cinta, ada yang tidak bisa diperjuangkan.

                    ***

    Hujan diluar, tidak lebih deras dari jatuh air mataku. Dingin yang masuk dari celah ventilasi juga tidak lebih menusuk dari nyeri yang menjalar di keseluruhanku. Sebuah kotak kado merah, seperti gambaran masa depan. Aku akan segera membuka dan mengetahui isinya. Kulucuti sedikit demi sedikit sampul yang membalut kotak itu, warna merah yang luntur menjadi bercak seperti darah di tanganku. Kuambil selembar kertas dari dalamnya, sebuah undangan pernikahan. Di kertas lain, tertulis,
    “Aku tidak akan menodai cinta kita dengan dosa. Maka dari itu, biarkan kita saling mencintai tanpa memiliki. Cinta yang baik, akan menuntun kita pada jalan yang benar, bukan?”



Ditulis 1 Juli 2013

   



Share:

Selasa, 22 September 2015

Pengorbanan

Ada saat ketika kita harus mengorbankan sesuatu yang kita miliki untuk menolong orang lain --meski kita tak menginginkannya.

Barangkali hidup adalah soal pengorbanan; tentang siapa yang berkorban, untuk siapa kita berkorban dan cerita tentang orang-orang yang selalu membutuhkan pengorbanan orang lain, untuk kepentingannya sendiri.

Pada umumnya, manusia akan berkorban demi manusia lainnya; atas dasar cinta, balas budi, atau karena terpaksa. Dan tidak semua pengorbanan akan mendapatkan timbal-baliknya, dengan kata lain: sia-sia. Juga, tidak semua pengorbanan mempunyai tujuan. Kadang kita berkorban karena kita merasa ingin, terkadang pula kita berkorban karena kita merasa harus melakukannya, tanpa kita mengerti untuk apa pengorbanan itu dilakukan.

Seperti yang sedang saya alami saat ini.

Saya telah berkorban terlalu banyak, memberikan apa yang saya punya, memberikan apa yang mampu saya lakukan. Saya telah berkorban terlalu sering, untuk seseorang yang tidak pernah menganggap itu adalah pengorbanan. Saya telah dipaksa berkorban, berkali-kali, sepanjang 5 tahun terakhir. Dan saya telah terus berkorban untuk-seseorang-yang-tidak-pernah-mengira-bahwa-ini-akan-menjadi-hal-yang-mengubah-hubungan-kami-selamanya ketika pada akhirnya dia menjadikan pengorbanan adalah hal wajib yang harus saya lakukan untuknya. Ketika pada akhirnya dia menggunakan segala cara untuk mendapatkan pengorbanan saya. Ketika pada akhirnya, dan tanpa ia sadari, ia menjadikan dirinya sebagai Ratu, sementara saya hamba --begitulah kemudian kehidupan kami menjadi tidak seperti seharusnya.

Pada suatu hari yang ajaib, dia menyadarkan saya bahwa pengorbanan yang berlebihan akan menyebabkan penyesalan, kekecewaan, rasa sakit --yang tak bisa diobati oleh dokter terbaik dimana pun, juga kerugian, kehilangan perasaan, kehilangan akal sehat. Atau mungkin, hidup memang tak perlu akal sehat. Kita hanya perlu hati untuk menjalani hidup ini. Kita cuma perlu menggunakan perasaan. Pada saat itulah manusia akan hidup dengan sebenar-benarnya hidup sebagai manusia, dengan hati dan perasaan mereka masing-masing.

Saya masih berusaha mengerti, jika selama ini pengorbanan itu membuat saya hilang akal, mengapa saya tak menggunakan hati saya untuk terus berkorban untuknya.

Saya masih belum mengerti.

Saya masih tidak dapat memahami.

Sampai pada tulisan ini dibuat, akhirnya saya mengerti bahwa: seseorang yang merasa kecewa tak hanya akan kehilangan akal sehatnya, tetapi juga akan kehilangan hati dan perasaan terhadap orang yang telah mengecewakannya.

Ya.

Seperti apa yang saya rasakan sekarang.... kepadamu.

Share:

Kamis, 30 Juli 2015

Sepotong Kisah


Panggilan ke-enam dan kamu sepertinya tidak sedang berada di sana --di dekat telepon genggangmu, atau kamu terlalu sibuk sampai tak mendengar ia berdering dan atau kamu mengetahuinya tapi tak kuasa untuk menjawab panggilan dariku. Ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi, seperti sekarang ini, ketika tiba-tiba seseorang datang kepadaku, masuk ke dalam hubungan kita.
Dua belas panggilan tak terjawab, tiga SMS berisi ajakan bertemu darimu baru sempat kubaca, terkirim sejak dua jam yang lalu. Aku sedang sibuk berbincang-bincang dengan seseorang yang baru saja kukenal beberapa hari lalu di Facebook. Dia lebih tampan darimu, lebih muda juga, lebih cepat tiba daripada kamu yang selalu berjanji tapi selalu terlambat –bahkan seringkali kamu tidak datang, menghilang begitu saja. Kami makan malam di restoran cepat saji sambil berbincang-binvang soal pekerjaan, tentang teknologi, juga masalah carut-marut pemerintahan di negara ini. Semua seperti aku dan kamu pada 3 tahun yang lalu, terasa nyaman, hangat dan menyenangkan.
Tiga tahun rasanya singkat saja, bagaikan baru kemarin –begitu kata orang-orang. Aku masih ingat benar peristiwa malam itu, hari dimana pertama kalinya kita bertemu, tidak jauh berbeda seperti cerita murahan di FTV anak remaja. Kamu datang lewat jam 12 malam, dan aku menyambutmu dengan perasaan senang bercampur malu-malu. Kemudian kita menelusuri jalanan sepi, singgah ke warung kopi, lalu kembali pulang. Sebelum berpisah, kita masih sempat memberikan pujian-pujian, dan beberapa ciuman. Esok harinya, kita sudah menjadi sepasang kekasih, sampai pada hari ini. Sesingkat itu.
Malam ini kita membuat janji bertemu, kita sudah merencanakannya sejak beberapa hari yang lalu, kita sudah mencatat tujuan mana saja yang akan kita singgahi; ke bioskop, lalu belanja keperluan mandi, kemudian makan kepiting di restoran favorit kita. Namun satu jam sebelum semua itu dimulai, aku mengirimkan pesan singkat berisi, “Maaf, rencana pergi hari ini kita tunda saja, ya. Ibu minta aku temani ke rumah keluarganya, ada hal penting dan harus selesai hari ini juga.”
“Oh. Oke. Besok gimana?”
“Iya. Sorry.”
“Nggak apa-apa. Salam buat Ibu ya.”
Entah bagaimana aku mendeskripsikan kamu, yang jelas, kamu tidak pernah terlihat marah atau kecewa ketika janji-janji bertemu kubatalkan. Kamu tidak pernah memberikan pilihan lain agar kita tetap bisa bertemu meski salah satu dari kita sedang sibuk. Mungkin ini hanya aku dan perasaanku yang terlalu berlebihan, atau aku hanya butuh liburan, atau hiburan.
“BEEP!” sebuah pesan singkat masuk di teleponku, dari seseorang yang baru saja kukenal beberapa hari lalu di Facebook.
            “Hai. Aku di depan rumah kamu, ya.. Jadi temani aku jalan, kan?”
            “Oke. Wait a minute.”
Aku bergegas keluar rumah, menghampiri dia dengan senyumnya yang bahagia.
“We had a beutiful magic love there..
  What a sad beautiful tragic love affair..”
Share:

Sabtu, 11 Juli 2015

Membayangkan Hal-Hal yang Seharusnya Terjadi


Waktu Imsak tersisa tiga puluh menit ketika kami selesai makan sahur. Hari ini giliran Ibu dan adik yang mencuci peralatan makan. Kami memang membagi dua kelompok untuk mengerjakan tugas-tugas rumah. Ibu lebih dekat dengan adik, karena bagi Ibu, adik lebih enak untuk diajak jalan-jalan ke luar rumah, sementara aku lebih senang diam di rumah, menonton serial tv Hannah Montana. Ibu juga menjadi tempat curhat yang nyaman bagi adik. Mereka bahkan lebih akrab dari keakraban antara aku dan Ayah. Tapi bukan berarti hubungan kami tidak baik. Aku dan Ayah saling menyayangi meski pun kami tidak seekspresif itu memperlihatkannya..

Aku dan ayah berbincang di teras rumah, duduk di kursi rotan berumur lebih dari 10 tahun. Ayah membelinya sejak sebelum menikah dengan ibu. Entah mengapa, dia suka sekali duduk disitu. Baginya, kursi rotan itu adalah sahabat karib. Ayah sering menghabiskan waktu sore dengan duduk disana sambil membaca Alquran, kadang ditemani ibu atau secangkir kopi hitam pahit. Duduk di kursi rotan membuat Ayah merasa nyaman, senyaman orang-orang  yang sedang bersantai tanpa memikirkan banyak hal. Ya. Kemudian arti kursi royan tersebut menjadi tidak sepenting itu.

Aku sibuk  dengan smartphone yang kubeli sendiri dari upah berjualan kue bersama ibu, sibuk karena berkonsentrasi dengan obrolan di group BBM kampus dan harus mendengarkan Ayah yang sedang bercerita.. Bagiku bermultitasking seperti itu bukan hal yang terlalu sulit. Oh ya, selain berjualan kue, kami juga melayani catering makanan untuk acara-acara seperti arisan atau pengajian. Sejak kecil aku memang suka memasak, lebih tepatnya bereksperimen dengan makanan. Menciptakan menu-menu unik, terlebih jika menu tersebut dilahap habis oleh Ayah, sungguh menjadi kebanggaan tersendiri bagiku. Itulah alasan mengapa aku tidak ingin menjadi tentara seperti Ayah, aku lebih tertarik bidang kuliner. Untuk informasi, aku adalah anak Akuntansi. Well, you don’t get the point. Entah dimana korelasinya.
Ayah terus saja bercerita, tentang teman sekantornya yang sedang berlibur ke Yogyakarta. Si teman terus mengirimi Ayah foto-foto makanan dan tempat wisata di Yogya melalui Whatsapp. Ayah bilang, nanti dia akan membawa kami liburan ke Yogyakarta kalau dapat cuti tahun depan. Mendengar perkataan Ayah, adik menyahut dari dapur, dia punya kemampuan pendengaran di atas rata-rata manusia normal. Selang beberapa detik mereka sudah duduk bersama kami dengan wajah antusias.

Adzan berkumandang. Setelah selesai sholat berjamaah, aku memposting sebuah foto ke Instagram, gambar Ayah dan adik dengan peci hitam putih favorit mereka sedang mengapit Ibu yang tampak cantik dibalut mukenah berwarna emas. Aku duduk di depan mereka mengambil foto selfie, seperti biasa, dengan pose yang paling membuat Ibu kesal: tertawa sambil menjulur lidah. Di foto itu kutulis caption, “After subuhan! Semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan untuk kita semua-sekeluarga. Happy fasting, people!”




Kebahagian..,
harusnya sesederhana itu.

Tetapi ia menjadi begitu sulit..,


setelah kami kehilangan Ayah.

Share:

Kamis, 04 Juni 2015

Yang Sedang Terjadi

Menuliskan ini, seperti mengingat hari-hari 2 tahun ke belakang, mengingat banyak kenangan; mengingat perayaan-perayaan, mengingat kebahagiaan sekaligus duka. Mengingat kamu.

Aku percaya kisah yang sedang kita jalani ini bukanlah seperti drama korea yang digemari banyak orang, bukan sesuatu yang sengaja kita persulit tanpa kita pahami tujuannya. Ini lebih rumit dari sekedar drama yang terjadi dalam hubungan percintaan. Ini adalah sebuah tindakan: tentang bertahan atau pergi.
Sudah bukan saatnya bagi kita untuk membicarakan apa dan siapa yang salah, bukan lagi waktunya untuk saling menceritakan secara mendetail "apa yang saya suka dan apa yang kamu tidak suka". Kita sudah dewasa untuk menyadari perihal apa saja yang terjadi, kita sudah mampu berpikir tentang apa yang seharusnya kita lakukan, tentang tanggung jawab, tentang bagaimana bersikap seperti selayaknya dua orang yang mempunyai hubungan.
Jika saat ini salah satu dari kita memilih untuk pergi, bukan berarti aku atau kamu tidak punya alasan. Hanya saja, sesungguhnya, alasan itu telah kita ketahui bersama. Mungkin ini yang disebut ketidak-cocokan, ketidak-cocokan untuk bersama-sama lagi.
Mencari alasan yang tepat untuk berpisah bukanlah hal yang sulit, tapi juga bukan hal yang mudah. Kita menjadi bingung bagaimana harus mengatakannya, bagaimana seharusnya memperbaiki --yang-sebenarnya-bisa-saja-aku-atau-kamu-perbaiki. Masalahnya adalah: mau atau tidak. Atau barangkali kita memang tidak perlu alasan, sama hal-nya ketika pertama saling jatuh cinta: tidak satu pun dari kita yang menjelaskan bagaimana aku bisa mencintaimu, bagaimana kamu bisa mencintaiku.
Terkadang, hubungan memang akan berakhir seperti sebuah tulisan --yang-tidak-ada-ujungnya, menggantung begitu saja.
Share:

Rabu, 17 Juli 2013

Untukmu yang berulang tahun hari ini,

pukul empat sore, lebih dari waktu yang cukup untuk merayakan pesta sejak semalaman
tapi kita tidak melakukannya

pukul empat sore,
para tetangga tak kunjung datang
anak-anak yang memakai topi dan membawa balon pun tak ada
kita tidak membagikan undangan
tidak lagi seperti dulu

pukul empat sore,
kau masih sibuk dengan urusan cucian dan dapur
sesekali kau seka peluh di dahimu, pelan-pelan
agar ingatan yang bersembunyi di baliknya tak ikut terhapus

hidup bukan lagi sesuatu yang begitu kita pikirkan,
semenjak kepergian seseorang.

Setelah ini,
barangkali,
ada yang akan terhapus dari ingatan
mungkin juga tidak
sebuah peristiwa:
pukul empat sore, tepat di hari ulang tahunmu, kau kedapatan hadiah dari Tuhan.
Dan kau
menerimanya
dengan lapang dada.

Dengan lapang dada..
Share:

Minggu, 20 Januari 2013

Menanti Lamaran


            Sepasang kostum serba putih sudah kusiapkan sejak jauh-jauh hari, beberapa tangkai mawar yang sudah diawetkan juga telah selesai kugantungi pada tiap-tiap dahan di beberapa pohon kawasan ini. Aku ingin orang-orang itu tahu bahwa akan ada perayaan disini, akan diselenggarakan sebuah pesta yang sangat romantis—melebihi seluruh pesta yang pernah terjadi di jagad semesta.
            
            “Kamu mau pakai sarung tangan warna merah atau yang hitam?” kataku pada Brian, ia tersenyum saja, mempercayakan penampilannya padaku. Kupakaikan dia sarung tangan warna hitam, sekilas warna itu hampir sama dengan warna bibirnya yang rusak diracun tembakau.
Aku menatap jam besar yang tegak terpaku di tubuh sebuah pohon yang usianya lebih tua dari usia ular yang hidup disini, jam yang menjadi pengingat kapan Brian harus hidup, atau harus mati kembali.
            
            “Sekarang waktunya..”

             Dentang jam itu bergema sampai ke seluruh pekuburan. Perlahan-lahan tanah di sekitar menggembur, mengeluarkan potongan-potongan tangan yang baunya amis tak tertahankan. Tangan-tangan itu mencengkeram akar-akar tumbuhan untuk menarik keluar bagian tubuhnya yang lain. Dadaku berdebar begitu bergairah, senyum kebahagiaan tersimpul dari bibirku yang sama keringnya dengan bibir Brian. Tak berapa lama, tempat ini sudah dipenuhi para tamu, sekumpulan perempuan bertubuh-kurus-berambut-panjang dengan baju kusam warna darah, anak-anak kecil yang berlarian ceria sambil menyeringai --mata mereka hitam dan buta, juga beberapa laki-laki dewasa bersayap dengan kemaluannya yang besar terjuntai begitu saja tanpa mereka tutupi. Aku menatap ke arah Brian, calon suamiku. Ia terlihat tampan dengan balutan busana serba putih dan bersih.
Aku menunggu.
Aku menunggu.
Menunggu ia segera bangun dari tidur manisnya, dan menghampiriku.

Aku menunggu.

Aku menunggu.

Namun Brian,
ia tak pernah bangun lagi. Ia mati --ia mati lebih dulu sebelum menepati janjinya untuk menikahiku, untuk menjadi Ayah yang baik bagi janin yang bertumbuh sehat di dalam tubuhku.

Brian mati di tangan perempuan yang dihamilinya itu.

            Perawat sialan yang mendengar teriakanku bergegas masuk ke kamar dan menyuntikkan obat bius. Aku melawan, menendang, berusaha memukuli mereka. Aku ingin keluar dari rumah sakit jiwa ini. Aku harus menemui Brian. Dia sedang mempersiapkan pesta kami.
Aku yakin,
dia sedang menunggu.
Share:

Kamis, 27 Desember 2012

Sembilan belas tahun yang lalu,


       seorang perempuan bersiap melepas kepergian suaminya. Di teras itu, di pelataran rumah yang selalu bersih dari gugur daun-daun, ia belum berhenti menangis, air mata yang seharusnya tercurah bersama kata-kata yang keluar dari bibirnya, kata-kata yang berbunyi, "Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Tetaplah disini,". Namun, ia tak menyuarakan itu. Doktrin sebelum pernikahan membuatnya rela-mau-tak-mau mengizinkan suaminya pergi tugas, sebagai kewajiban seorang abdi negara.

 "Ayah akan pulang sebelum anak kita lahir, kan?"

 "Insya Allah, ya, Bun. Semoga urusannya cepat selesai."

Darta mencium kening istrinya, bibirnya gemetar, gemuruh di dadanya bahkan tak redam oleh berkali-kali pelukan.
Istrinya itu sedang hamil tua, beberapa minggu lagi melahirkan. Tapi ia bisa bisa berbuat apa-apa, karena kepergiannya itu atas nama negara.


***

       Seminggu berlalu tanpa kabar, tanpa komunikasi. Hanya deretan doa tak putus yang dikirimkan Mulan untuk suaminya. Setiap malam ia bertarung melawan rasa kantuknya, mengabaikan ngilu yang mendera sekujur perutnya, ia berdoa di keheningan sepertiga malam--semata-mata untuk suaminya, memohon keselamatan.


***


      Di ruang nifas, ia telah melewatkan waktu-waktu maha nyeri. Anak keduanya lahir dengan sehat. Keluarga dan rekan-rekan kerja berdatangan, melihat ia dan bayinya. Sekelompok orang-orang itu berusaha tersenyum, sementara hati mereka dirundung kesedihan.
Dengan mata berkaca-kaca, nenek dari bayi itu berkata, "Mulan, kamu istirahat dulu, ya. Kamu mau makan apa, nanti Ibu belikan."

  "Tidak, Bu. Aku ingin membagi kebahagiaanku dengan orang-orang yang datang melihat."

 "Tapi kamu sangat lelah."

 "Lelah itu sudah hilang sedari tadi. Kapan Mas Darta pulang ya, Bu? Dia pasti senang melihat anak laki-lakinya sehat seperti ini."

Di sekitarnya, hiruk-pikuk ucapan selamat tak henti terdengar. Kado-kado bergelimpangan di atas meja dan sofa. Mulan sangat bahagia karena begitu baik orang-orang terhadapnya, banyak teman-teman suaminya yang datang, bahkan ruang rumah sakit ini sudah terlampau sesak menampung mereka semua.
Seorang komandan angkatan darat menyalip lewat desakan penjenguk lainnya, ia duduk tepat di sudut tempat tidur sambil menggenggam tangan Mulan.

 "Selamat ya, atas kelahiran bayinya," laki-laki itu tersenyum, lama, ia tak mampu menyudahi lengkung bibirnya.

 "Terimakasih, komandan."

Satu persatu penjenguk keluar dari ruangan itu, tersisa Mulan, Ibunya dan sang komandan. Diluar, suara hiruk-pikuk tak berhenti. Bunyinya terdengar seperti gaduh peperangan.

 "Mulan..," komandan Arya buka mulut.

 "Ya."

 "Maaf. Berat bagi kami untuk mengatakan ini..," suara Arya tercekat, ia menatap Mulan gemetar.
 
   "Darta.."

Belum selesai komandan Arya berkata-kata, Mulan sudah menangis. Air mata hangat mengalir membasahi keseluruhan wajahnya, air mata yang menjadi sungai, air mata yang menenggelamkan ia pada kesedihan yang dalam--yang tak terjamahi dasarnya. Suasana di ruangan itu mendadak muram, mencekap, bunyi detak jantung penghuninya terdengar hingga ke telinga yang lain.

  "Suamimu telah gugur, Sayang," komandan Arya melanjutkan, ia mengusap lembut kepala lawan bicaranya. "Suamimu gugur sebagai pahlawan..," komandan Arya diam, ia tak bisa merangkai kalimat yang seharusnya.

Ia diam.
Seisi ruangan hening.
Hanya terdengar isak Mulan yang beradu dengan suara detik jam dinding, juga detak jantung mereka.


***


Tuhan, jika ini memang takdir yang baik, tolong jaga kami. Karena setelah ini, aku akan melewatkan hari-hari yang berat.
Berikan aku kekuatan untuk membesarkan kedua putraku.
Berikan aku ketabahan dan kesabaran.
Dan tolong, berikan tempat yang paling indah untuk suamiku.
Jangan pernah hapus ingatannya.
Jangan pernah buat ia lupa.
Disini, ada orang-orang yang tak berhenti mencintainya.
Ada orang-orang yang tak pernah lelah menunggunya datang.
Ada orang-orang yang selalu merindukan, setiap detik, setiap kali ia bernapas.
Ada orang-orang yang selau berdoa untuknya, untuk kebahagiaanya.

Share:

Rabu, 19 Desember 2012

Dan,


pada dinding dadaku kau menuliskan kata-kata, semacam larik mantra untuk membuka pintunya yang telah lama kututup. Mungkin kau tahu tak ada apapun di dalam sana yang bisa kau ambil, hanya sebuah ruang kosong berlantai kesedihan—sunyi ditinggal pergi pemiliknya. Hanya tergeletak puingan hati yang tak pernah selesai menyusun luka-lukanya sendiri. Apa yang ingin kau lihat selain gelap semesta tanpa kehidupan, apa yang ingin kau punguti selain derai hati yang patah berkeping-keping—yang mungkin salah satu bagiannya telah hilang tertinggal di masa lalu?

Namun,
kau begitu paham bagaimana cara masuk kesana tanpa menghancurkan pintunya, bahkan—pada akhirnya kau telah tunai menyusun semua kepingan menjadi sebuah hati yang utuh.

Tiba-tiba aku merasa menjadi hambamu. Kau, tuan yang menyelamatkan aku dari kehancuran.
Keraguan apa lagi yang akan menghalangiku untuk jatuh kepadamu?

Tak ada, Dan.

Tetaplah disini—di dadaku, sebagai cahaya yang melengkapi kegelapan, sebagai cinta yang meramaikan kesunyian.

Karena mulai hari ini, kau telah menjadi bagian dari denyut nadiku.
Share:

Selasa, 04 Desember 2012

Tuan Fallacia


Cerpen: Chandrawily
Kisah lain dari cerpen "Nyonya Fallacia" Agus Noor.          

            
            Sebelum menikahi istrinya, Tuan Fallacia memang gemar memelihara kucing dan semua orang di sekelilingnya tahu hal itu. Hanya saja rasa sayang yang ia berikan kepada kucing-kucingnya tergolong aneh. Tuan Fallacia seperti mengabdikan hidupnya, bekerja setiap hari hanya untuk menghidupi puluhan kucing yang berkembang biak di rumahnya. Di beberapa malam, para tetangga akan mendengar jerit kucing betina yang begitu nyeri, lama-lama suaranya terdengar seperti tersedak mirip suara kucing yang hendak muntah. Sebagian orang berpikir bahwa Tuan Fallacia kawin dengan kucing. Lagian, kucing-kucing betina di rumahnya itu tak ada yang tak hamil, semuanya berperut besar, terlihat ketika sesekali mereka keluar mencari pasir untuk mandi atau membuang kotoran. Dan kucing-kucing lainnya –yang setiap hari semakin bertambah banyak— itu dipercayai warga sebagai keturunan Tuan Fallacia. Setelah ia menikah dengan istrinya—yang manusia, kecintaannya kepada kucing tak pernah berubah. Tuan dan Nyonya Fallacia menikah siri dan mengundang sedikit warga untuk jadi saksi. Tak ada makan-makan, tak ada pesta atau perayaan besar apapun. Mereka berdua memiliki sifat yang sama, selain sama-sama suka kucing, mereka tak senang bergaul, setiap hari hanya berdiam di rumah. Nyonya Fallacia hanya pergi ke pasar dekat komplek seminggu sekali, membeli daging dan ikan dalam jumlah banyak. Sebenarnya sepasang suami-istri ini tak mengganggu warga, hanya saja kucing-kucing mereka itu selalu bikin onar. Sebagian dari mereka sering masuk ke rumah warga dan mencuri makanan, yang lainnya mengacak-acak taman dengan membuang kotoran disana. Dan yang lebih mengganggu, kucing-kucingnya itu tak pernah diam, mereka seperti tak tidur berhari-hari. Tiap malam selalu mengeong, entah kelaparan entah sedang dizinahi tuannya. Oleh karena itu warga sekitar bersepakat mengusirnya dari kawasan tempat tinggal dia jika pasutri itu tak segera membuang semua hewan peliharaan mereka. Kabar terakhir yang kudengar, Tuan Fallacia memilih pergi bersama istri dan membawa kucing-kucingnya, mereka tinggal di sebuah rumah tua, di depan komplek, entah apa namanya. Rumahnya yang paling depan.
            Kurang lebih seperti itu cerita Rois, mantan tetangga mereka yang tiba-tiba meninggal kena busung lapar. Tubuhnya tinggal tulang, gigi-giginya tumbuh lebih maju hingga lewat batas bibir. Padahal Rois dikenal sebagai buruh yang penghasilannya cukup untuk menghidupi dirinya sendiri. Rois juga tak menikah dan tak punya anak, kedua orang tuanya sudah lama mati. Ia hanya sebatang kara dan tak terbebani apapun. Beberapa warga menduga-duga bahwa Rois dikutuk kucing-kucing peliharaan Tuan Fallacia, karena ia salah satu yang paling bersemangat mengerahkan warga untuk membenci dan mengusir lelaki yang malang itu—jika tak mau disebut aneh.
            Aku menyeruput sedikit kopiku yang sudah dingin, sedingin angin yang tiba-tiba saja hinggap di keseluruhan tengkuk dan pergelangan tangan.
            “Kurasa kita tak boleh sembarangan menulis kisah hidup Tuan Fallacia,” kataku kepada Mey.
            “Tentu saja tidak. Kita merangkum keseluruhan cerita orang dekatnya,” jawab Mey.
            “Tapi cerita-cerita itu belum tentu benar. Sudah berapa narasumber yang diceritakan mati setelah memberikan informasi?”
            “Itu hanya akal-akalan warga saja. Tak ada yang mati, apalagi matinya karena dibunuh setan kucing. It’s a stupid joke!”
            “Tapi..”
            “Rhea, kita tetap akan menuliskan kisah ini dengan horor, sangat horor!” Mey terlihat bersemangat.
Ah! Semua wartawan majalah misteri memang begitu, seenaknya saja mengutak-atik hidup orang lain tanpa berdasarkan kebenaran. Itulah sebabnya aku resign dari tempat kerjaku, dan sekarang bekerja sebagai teller di salah satu Bank Swasta.
            Semenjak perdebatan kecil kami hari itu, Mey tak pernah lagi menghubungiku. Sahabat sekaligus mantan rekan kerjaku itu mungkin benar-benar marah. Pagi ini aku kedatangan nasabah yang sangat aneh, ia menabungkan uangnya senilai 666.000 rupiah. Bukan soal nominal uang itu yang dipercaya banyak orang sebagai angka kematian, tapi penampilan si nasabah ini yang aneh. Ia pria tua berpakaian serba hitam, berkatamata bulat yang disekitar bingkainya berwarna kuning, pertanda barang itu sangat antik. Ia menghampiriku setelah kami mendengar nomor antriannya disebutkan. Aku menyapanya seperti biasa dan ia hanya menatapku tanpa senyum, tanpa kebencian, tanpa perasaan sedih atau apapun. Aku sendiri bingung bagaimana meng-ekspresikan wajahnya atau menebak apa yang sedang ia pikirkan. Pria itu menyerahkan sejumlah uang dan buku tabungan, aku memprosesnya, selesai lalu mengucapkan terimakasih. Ia masih diam sampai akhirnya tangan kanannya meletakkan sebuah majalah di mejaku, lalu pergi.

Tuan Fallacia meninggal di rumahnya pada Kamis malam, tepat di usia ke-66. Tak ada yang datang melayat, tak ada bunyi toa yang digaungkan untuk menyampaikan berita duka. Kamar itu benar-benar sunyi. Kucing-kucing yang biasanya berisik kini seperti kehilangan lidahnya. Mereka berkumpul melingkari mayat tuannya, menangis hingga menitikkan air mata. Nyonya Fallacia yang melihat itu merasa malu, bagaimana kucing-kucing bisa sangat berduka, sementara ia, istrinya, tak mampu menangis setulus itu.
Tak ada yang tahu apa yang terjadi setelahnya. Menurut cerita warga, mereka kerap melihat Tuan Fallacia berdiri di depan rumahnya sambil menggendong seekor kucing, tubuhnya segar, tak terlihat bahwa ia sedang sakit. Tuan Fallacia juga sering terlihat sedang duduk berbincang dengan sesuatu. Seorang warga melihatnya. Rumah itu dalam keadaan terang dengan gorden jendelanya warna putih, jadi apapun yang terjadi dibalik jendela pasti akan sangat jelas terlihat dari luar.
Sebuah kabar burung mencuat lagi ke permukaan. Mereka bilang, Tuan Fallacia memang sudah meninggal dan mayatnya diawetkan oleh istrinya sendiri. Perempuan yang juga misterius itu sangat mencintai suaminya, dan terpaksa mencintai kucing-kucing peliharaan suaminya. Jika ada yang mati, ia akan mengawetkannya, membiarkan hewan-hewan itu kaku bergelimpangan di ruang tamu, meja makan atau di dapur.
Sebuah kabar lain menyebutkan bahwa Tuan Fallacia bangkit pada malam-malam tertentu, ia menjerit kesakitan ketika malaikat kematian sedang mencabut nyawanya. Malaikat itu datang berkali-kali, karena nyawa Tuan Fallacia ternyata tak cuma satu, melainkan sembilan.

Aku terdiam.
Udara dingin hinggap ke keseluruhan kepalaku. Artikel ini belum selesai. Mey tidak menyelesaikannya.
Degup jantung berdetak cepat, bahkan terasa sampai ke pergelangan tanganku. Suara langkah kaki yang lalu lalang seperti mengiramakan sebuah lagu. Di depanku, staf-staf yang sedang beristirahat untuk makan siang saling menjentikkan gelas-gelas mereka, semuanya berpakaian serba hitam. Suara tawa terdengar satu-satu dan berganti-gantian, menjadi gema yang mengerikan. Kami sedang melakukan perayaan, untuk seseorang yang baru saja mati.
Share: